Ka'ab berkata: "Saya tidak pernah membelakang - tidak mengikuti - Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam
suatu peperanganpun kecuali dalam peperangan Tabuk. Hanya saja saya
juga pernah tidak mengikuti dalam peperangan Badar, tetapi beliau صلی الله عليه وسلم tidak mengolok-olokkan seseorangpun yang tidak mengikutinya itu - yakni Badar. Hanyasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar
bersama kaum Muslimin menghendaki kafilahnya kaum Quraisy, sehingga
Allah Ta'ala mengumpulkan antara mereka itu dengan musuhnya dalam waktu
yang tidak tertentukan. Saya juga ikut menyaksikan bersama Rasulullah صلی الله عليه وسلم di
malam 'aqabah di waktu kita berjanji saling memperkokohkan Islam dan
saya tidak senang andaikata tidak mengikuti malam 'aqabah itu sekalipun
umpamanya saya ikut menyaksikan peperangan Badar dan sekalipun pula
bahwa peperangan Badar itu lebih termasyhur sebutannya di kalangan para
manusia daripada malam 'aqabah tadi. Perihal keadaanku ketika saya tidak
mengikuti Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam
peperangan Tabuk ialah bahwa saya sama-sekali tidak lebih kuat dan
tidak pula lebih ringan dalam perasaanku sewaktu saya tidak mengikuti
peperangan tersebut. Demi Allah saya belum pernah mengumpulkan dua buah
kendaraan sebelum adanya peperangan Tabuk itu, sedang untuk peperangan
ini saya dapat mengumpulkan keduanya. Tidak pula Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu
menghendaki suatu peperangan, melainkan tentu beliau berniat pula
dengan peperangan yang berikutnya sehingga sampai terjadinya peperangan
Tabuk. Rasulullah صلی الله عليه وسلم berangkat
dalam peperangan Tabuk itu dalam keadaan panas yang sangat dan
menghadapi suatu perjalanan yang jauh lagi harus menempuh daerah yang
sukar memperoleh air dan tentulah pula akan menghadapi musuh yang
jumlahnya amat besar sekali. Beliau صلی الله عليه وسلم kemudian
menguraikan maksudnya itu kepada seluruh kaum Muslimin dan menjelaskan
persoalan mereka, supaya mereka dapat bersiap untuk menyediakan
perbekalan peperangan mereka. Beliau صلی الله عليه وسلم memberitahukan pada mereka dengan tujuan yang dikehendaki. Kaum Muslimin yang menyertai Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu
banyak sekali, tetapi mereka itu tidak terdaftarkan dalam sebuah buku
yang terpelihara." Yang dimaksud oleh Ka'ab ialah adanya buku catatan
yang berisi daftar mereka itu.
Ka'ab berkata: "Maka sedikit sekali
orang yang ingin untuk tidak menyertai peperangan tadi, melainkan ia
juga menyangka bahwa dirinya akan tersamarkan,selama tidak ada wahyu
yang turun dari Allah Ta'ala - maksudnya kerana banyaknya orang yang
mengikuti, maka orang yang berniat tidak mengikuti tentu tidak akan
diketahui oleh siapapun sebab catatannyapun tidak ada.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم berangkat
dalam peperangan Tabuk itu di kala buah-buahan sedang enak-enaknya dan
naungan-naungan di bawahnya sedang nyaman-nyamannya. Saya amat senang
sekali pada buah-buahan serta naungan itu. Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersiap-siap
dan sekalian kaum Muslimin juga demikian. Saya mulai pergi untuk ikut
bersiap-siap pula dengan beliau, tetapi saya lalu mundur lagi dan tidak
ada sesuatu urusanpun yang saya selesaikan, hanya dalam hati saya
berkata bahwa saya dapat sewaktu-waktu berangkat jikalau saya
menginginkan. Hal yang sedemikian itu selalu saja mengulur-ulurkan waktu
persiapanku, sehingga orang-orang giat sekali untuk mengadakan
perbekalan mereka, sedangkan saya sendiri belum ada persiapan
sedikitpun. Kemudian saya pergi lagi lalu kembali pula dan tidak pula
ada sesuatu urusan yang dapat saya selesaikan. Keadaan sedemikian ini
terus-menerus menyebabkan saya mengulur-ulurkan waktu keberangkatanku,
sehingga orang-orang banyak telah bergegas-gegas dan majulah mereka yang
hendak mengikuti peperangan itu. Saya bermaksud akan berangkat kemudian
dan selanjutnya tentu dapat menyusul mereka yang berangkat Tebih dulu.
Alangkah baiknya sekiranya maksud itu saya laksanakan, tetapi kiranya
yang sedemikian tadi tidak ditakdirkan untuk dapat saya kerjakan. Dengan
begitu maka setiap saya keluar bertemu dengan orang-orang banyak
setelah berangkatnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu,
keadaan sekelilingku itu selalu menyedihkan hatiku, kerana saya
mengetahui bahwa diriku itu hanyalah sebagai suatu tuntunan yang dapat
dituduh melakukan kemunafikan atau hanya sebagai seseorang yang dianggap
beruzur oleh Allah Ta'ala kerana termasuk golongan kaum yang lemah -
tidak kuasa mengikuti peperangan.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم kiranya
tidak mengingat akan diriku sehingga beliau datang di Tabuk, maka
sewaktu beliau duduk di kalangan kaumnya di Tabuk, tiba-tiba bertanya:
"Apa yang dilakukan oleh Ka'ab bin Malik?" Seorang dari golongan Bani
Salimah menjawab: "Ya Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian indahnya dan
oleh keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya." Kemudian Mu'az bin
Jabal رضي الله عنه berkata:
"Buruk sekali yang kau katakan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita
tidak pernah melihat keadaan Ka'ab itu kecuali yang baik-baik saja."
Rasulullah صلی الله عليه وسلم berdiam diri. Ketika beliau صلی الله عليه وسلم dalam
keadaan seperti itu lalu melihat ada seorang yang mengenakan pakaian
serba putih yang digerak-gerakkan oleh fatamorgana - sesuatu yang tampak
semacam air dalam keadaan yang panas terik di padang pasir -
Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
"Engkaukah Abu Khaitsamah?"Memang orang ituadalah Abu Khaitsamah
al-Anshari dan ia adalah yang pernah bersedekah dengan sesha' kurma
ketika dicaci oleh kaum munafikin.
Ka'ab berkata selanjutnya: "Setelah ada berita yang sampai di telingaku bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلمtelah
menuju kembali dengan kafilahnya dari Tabuk, maka datanglah kesedihanku
lalu saya mulai mengingat-ingat bagaimana sekiranya saya berdusta -
untuk mengada-adakan alasan tidak mengikuti peperangan. Saya berkata
pada diriku, bagaimana caranya supaya dapat terkeluar - terhindar dari
kemurkaannya besok sekiranya beliau telah tiba. Sayapun meminta bantuan
untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dengan setiap orang yang
banyak mempunyai pendapat dari golongan keluargaku. Setelah
diberitahukan bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah
tiba maka lenyaplah kebathilan dari jiwaku - yakni keinginan akan
berdusta itu - sehingga saya mengetahui bahwa saya tidak dapat
menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu dengan sesuatu apapun untuk
selama- lamanya. Oleh sebab itu saya menyatukan pendapat hendak
mengatakan secara sebenarnya belaka.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu
apabila datang dari perjalanan, tentu memulai dengan memasuki masjid,
kemudian bersembahyang dua rakaat, kemudian duduk di hadapan orang
banyak. Setelah beliau melakukan yang sedemikian itu, maka datanglah
padanya orang-orang yang membelakang - tidak mengikuti peperangan -
untuk mengemukakan alasan mereka dan mereka pun bersumpah dalam
mengemukakan alasan-alasannya itu. Jumlah yang tidak mengikuti itu ada
delapan puluh lebih - tiga sampai sembilan. Beliau صلی الله عليه وسلمmenerima
alasan- alasan yang mereka kemukakan secara terus terang itu, juga
membai'at - meminta janji setia - mereka serta memohonkan pengampunan
untuk mereka pula, sedang apa yang tersimpan dalam hati mereka
bulat-bulat diserahkan kepada Allah Ta'ala. Demikianlah sehingga sayapun
datanglah menghadap beliau صلی الله عليه وسلم itu.
Setelah saya mengucapkan salam padanya, beliau tersenyum bagaikan
senyumnya orang yang murka, kemudian bersabda: "Kemarilah!" Saya
mendatanginya sambil berjalan sehingga saya duduk di hadapannya,
kemudian beliau صلی الله عليه وسلم bertanya padaku: "Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau telah membeli unta untuk kendaraanmu?"
Ka'ab
berkata: "Saya lalu menjawab: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya, demi
Allah, andaikata saya duduk di sisi selain Tuan dari golongan ahli
dunia, niscayalah saya berpendapat bahwa saya akan dapat keluar dari
kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan. Sebenarnya saya telah
dikaruniai kepandaian dalam bercakap-cakap. Tetapi saya ini, demi Allah,
pasti dapat mengerti bahwa andai kata saya memberitahukan kepada Tuan
dengan suatu ceritera bohong pada hari ini yang Tuan akan merasa rela
dengan ucapanku itu, namun sesungguhnya Allah hampir-hampir akan
memurkai Tuan kerana perbuatanku itu. Sebaliknya jikalau saya
memberitahukan kepada Tuan dengan ceritera yang sebenarnya yang dengan
demikian itu Tuan akan murka atas diriku dalam hal ini, sesungguhnya
saya hanyalah menginginkan keakhiran yang baik dari Allah 'Azzawajalla.
Demi Allah, saya tidak beruzur sedikitpun - sehingga tidak mengikuti
peperangan itu. Demi Allah, sama sekali saya belum merasakan bahwa saya
lebih kuat dan lebih ringan untuk mengikutinya itu, yakni di waktu saya
membelakang daripada Tuan -sehingga jadi tidak ikut berangkat."
Ka'ab berkata: "Rasulullah صلی الله عليه وسلم lalu
bersabda: Tentang orang ini, maka pembicaraannya memang benar - tidak
berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan
memberikan keputusannya tentang dirimu."
Ada beberapa orang dari
golongan Bani Salimah yang berjalan mengikuti jejakku, mereka berkata:
"Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah bersalah
dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya tidak
kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan keuzuranmu saja kepada
Rasulullah صلی الله عليه وسلم sebagaimana
keuzuran yang dikemukakan oleh orang-orang yang tertinggal yang
lain-lain. Sebenarnya bukankah telah mencukupi untuk menghilangkan
dosamu itu jikalau Rasulullah صلی الله عليه وسلم suka memohonkan mengampunan kepada Allah untukmu.
Ka'ab
berkata: "Demi Allah, tidak henti-hentinya orang-orang itu
mengolok-olokkan diriku - kerana menggunakan cara yang dilakukan
sebagaimana di atas yang telah terjadi itu - sehingga saya sekali hendak
kembali saja kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم ュ
untuk mengikuti cara orang-orang Bani Salimah itu, agar saya
mendustakan diriku sendiri. Kemudian saya berkata kepada orang-orang
itu: "Apakah ada orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang
saya temui itu?" Orang-orang itu menjawab: "Ya, ada dua orang yang
menemui keadaan seperti itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau
katakan lalu terhadap keduanya itupun diucapkan - oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم - sebagaimana kata-kata yang diucapkan padamu."
Ka'ab
berkata: "Siapakah kedua orang itu?" Orang-orang menjawab: "Mereka itu
ialah Murarah bin Rabi'ah al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi."
Ka'ab
berkata: "Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua
orang itu adalah orang-orang shahih dan juga benar-benar ikut
menyaksikan peperangan Badar dan keduanya dapat dijadikan sebagai contoh
- dalam keberanian dan lain-lain."
Ka'ab berkata: "Saya pun lalu
terus pergi di kala mereka telah selesai menyebut- nyebutkan tentang
kedua orang tersebut di atas di mukaku.
Rasulullah صلی الله عليه وسلم melarang
kita - kaum Muslimin - untuk bercakap-cakap dengan ketiga orang di
antara orang-orang yang sama membelakang - tidak mengikuti perjalanan -
beliau itu."
Ka'ab berkata: "Orang-orang sama menjauhi kita,"
dalam riwayat lain ia berkata: "Orang-orang sama berubah sikap terhadap
kita bertiga, sehingga dalam jiwaku seolah-olah bumi ini tidak mengenal
lagi akan diriku, maka seolah-olah bumi ini adalah bukan bumi yang saya
kenal sebelumnya. Kita bertiga berhal demikian itu selama lima puluh
malam - dengan harinya. Adapun dua kawan saya, maka keduanya itu menetap
saja dan selalu duduk-duduk di rumahnya sambil menangis. Tentang saya
sendiri, maka saya adalah yang termuda di kalangan kita bertiga dan
lebih tahan - mendapat-kan ujian. Oleh sebab itu sayapun keluar serta
menyaksikan shalat jamaah bersama kaum Muslimin lain-lain dan juga suka
berkeliling di pasar-pasar, tetapi tidak seorangpun yang mengajak bicara
padaku. Saya pernah mendatangi Rasulullah صلی الله عليه وسلمdan
mengucapkan salam padanya dan beliau ada di majlisnya sehabis shalat,
kemudian saya berkata dalam hatiku, apakah beliau menggerakkan kedua
bibirnya untuk menjawab salamku itu ataukah tidak. Selanjutnya saya
bersembahyang dekat sekali pada tempatnya itu dan saya mengamat-amatinya
dengan pandanganku. Jikalau saya mulai mengerjakan shalat, beliau
melihat padaku, tetapi jikalau saya menoleh padanya, beliaupun lalu
memalingkan mukanya dari pandanganku.
Demikian halnya, sehingga
setelah terasa amat lama sekali penyeteruan kaum Muslimin itu terhadap
diriku, lalu saya berjalan sehingga saya menaiki dinding muka dari rumah
Abu Qatadah. Ia adalah anak pamanku - jadi sepupunya - dan ia adalah
orang yang tercinta bagiku di antara semua orang. Saya memberikan salam
padanya, tetapi demi Allah, ia tidak menjawab salamku itu. Kemudian saya
berkata kepadanya: "Hai Abu Qatadah, saya hendak bertanya padamu kerana
Allah, apakah engkau mengetahui bahwa saya ini mencintai Allah dan
RasulNya صلی الله عليه وسلم?" Ia diam saja,
lalu saya ulangi lagi dan bertanya sekali iagi padanya, iapun masih
diam saja. Akhirnya saya ulangi lagi dan saya menanyakannya sekali lagi,
lalu ia berkata: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui tentang
itu." Oleh sebab jawabnya ini, maka mengalirlah air mataku dan saya
meninggalkannya sehingga saya menaiki dinding rumah tadi.
Di kala
saya berjalan di pasar kota, tiba-tiba ada seorang petani dari golongan
petani negeri Syam (Palestina), yaitu dari golongan orang-orang yang
datang dengan membawa makanan yang hendak dijualnya di Madinah, lalu
orang itu berkata: "Siapakah yang suka menunjukkan, manakah yang bernama
Ka'ab bin Malik." Orang-orang lain sama menunjukkannya kearahku,
sehingga orang itupun mendatangi tempatku, kemudian menyerahkan sepucuk
surat dari raja Ghassan - yang beragama Kristen. Saya memang orang yang
dapat menulis, maka surat itupun saya baca, tiba-tiba isinya adalah
sebagai berikut:
"Amma ba'd. Sebenarnya telah sampai berita pada kami bahwa sahabatmu - yakni Muhammad صلی الله عليه وسلم -
telah menyeterumu. Allah tidaklah menjadikan engkau untuk menjadi orang
hina di dunia ataupun orang yang dihilangkan hak-haknya. Maka dari itu
susullah kami - maksudnya datanglah di tempat kami - maka kami akan
menggembirakan hatimu."
Kemudian saya berkata setelah selesai
membacanya itu: "Ah, inipun juga termasuk bencana pula," lalu saya
menuju ke dapur dengan membawa surat tadi kemudian saya membakarnya.
Selanjutnya setelah lepas waktu selama empatpuluh hari dari jumlah
limapuluh hari, sedang waktu agak terlambat datangnya tiba-tiba
datanglah di tempatku seorang utusan dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم, terus berkata: "Sesungguhnya Rasulullah صلی الله عليه وسلم memerintahkan
padamu supaya engkau menyendirikan isterimu." Saya bertanya: "Apakah
saya harus menceraikannya ataukah apa yang harus saya lakukan?" Ia
berkata: "Tidak usah menceraikan, tetapi menyendirilah daripadanya, jadi
jangan sekali-kali engkau mendekatinya." Rasulullah صلی الله عليه وسلم juga
mengirimkan utusan kepada kedua sahabat saya - yang senasib di atas -
sebagaimana yang dikirimkannya padaku. Oleh sebab itu lalu saya berkata
pada isteriku: "Susullah dulu keluargamu - maksudnya pergilah ke tempat
kedua orang tuamu. Beradalah di sisi mereka sehingga Allah akan
menentukan bagaimana kelanjutan peristiwa ini."
Isteri Hilal bin Umayyah mendatangi Rasulullah صلی الله عليه وسلم,
lalu berkata pada beliau: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Hilal bin
Umayyah itu seorang yang amat tua dan hanya sebatang kara, tidak
mempunyai pelayan juga. Apakah Tuan juga tidak senang andaikata saya
tetap melayaninya?" Beliau صلی الله عليه وسلمmenjawab:
"Tidak, tetapi jangan sekali-kali ia mendekatimu - jangan berkumpul
seketiduran denganmu." Isterinya berkata lagi: "Sesungguhnya Hilal itu
demi Allah, sudah tidak mempunyai gerak samasekali pada sesuatupun dan
demi Allah, ia senantiasa menangis sejak terjadinya peristiwa itu sampai
pada hari ini."
Sebagian keluargaku berkata padaku: "Alangkah baiknya sekiranya engkau meminta izin kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم dalam persoalan isterimu itu. Rasulullah صلی الله عليه وسلم juga
telah mengizinkan kepada isteri Hilal bin Umayyah untuk tetap
melayaninya." Saya berkata: "Saya tidak akan meminta izin untuk isteriku
itu kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم, saya pun tidak tahu bagaimana nanti yang akan diucapkan oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم sekiranya
saya meminta izin pada beliau perihal isteriku itu - yakni supaya boleh
tetap melayani diriku? Saya adalah seorang yang masih muda." Saya tetap
berkeadaan sebagaimana di atas itu - tanpa isteri - selama sepuluh
malam dengan harinya sekali maka telah genaplah jumlahnya menjadi lima
puluh hari sejak kaum Muslimin dilarang bercakap-cakap dengan kita.
Selanjutnya
saya bersembahyang Subuh pada pagi hari kelima puluh itu di muka rumah
dari salah satu rumah keluarga kami. Kemudian di kala saya sedang duduk
dalam keadaan yang disebutkan oleh Allah Ta'ala perihal diri kita itu -
yakni ketika kami bertiga sedang dikucilkan, jiwaku terasa amat sempit
sedang bumi yang luas terasa amat kecil, tiba- tiba saya mendengar suara
teriakan seseorang yang berada di atas gunung Sala' - sebuah gunung di
Madinah, ia berkata dengan suaranya yang amat keras: "Hai Ka'ab bin
Malik, bergembiralah." Segera setelah mendengar itu, sayapun bersujud -
syukur - dan saya meyakinkan bahwa telah ada kelapangan yang datang
untukku. Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah
memberitahukan pada orang-orang banyak bahwa taubat kita bertiga telah
diterima oleh Allah 'Azzawajalla, yaitu di waktu beliau bersembahyang
Subuh. Maka orang-orangpun menyampaikan berita gembira itu pada kita dan
ada pula pembawa-pembawa kegembiraan itu yang mendatangi kedua
sahabatku - yang senasib. Ada seorang yang dengan cepat-cepat melarikan
kudanya serta bergegas-gegas menuju ke tempatku dari golongan Aslam -
namanya Hamzah bin Umar al-Aslami. Ia menaiki gunung dan suaranya itu
kiranya lebih cepat terdengar olehku daripada datangnya kuda itu
sendiri. Setelah dia datang padaku yakni orang yang kudengar suaranya
tadi, iapun memberikan berita gembira padaku, kemudian saya melepaskan
kedua bajuku dan saya berikan kepadanya untuk dipakai, sebagai hadiah
dari berita gembira yang disampaikannya itu. Demi Allah, saya tidak
mempunyai pakaian selain keduanya tadi pada hari itu. Maka sayapun
meminjam dua buah baju - dari orang lain - dan saya kenakan lalu
berangkat menuju ke tempat Rasulullah صلی الله عليه وسلم Orang-orang
sama menyambut kedatanganku itu sekelompok demi sekelompok menyatakan
ikut gembira padaku sebab taubatku yang telah diterima. Mereka berkata:
"Semogagembiralah hatimu kerana Allah telah menerima taubatmu itu."
Demikian akhirnya saya memasuki masjid, di situ Rasulullah صلی الله عليه وسلم sedang duduk dan di sekelilingnya ada beberapa orang. Thalhah bin Ubaidullah رضي الله عنه lalu
berdiri cepat-cepat kemudian menjabat tanganku dan menyatakan ikut
gembira atas diriku. Demi Allah tidak ada seorangpun dari golongan kaum
Muhajirin yang berdiri selain Thalhah itu. Oleh sebab itu Ka'ab tidak
akan melupakan peristiwa itu untuk Thalhah.
Ka'ab berkata: "Ketika saya mengucapkan salam kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم beliau
tampak berseri-seri wajahnya kerana gembiranya lalu bersabda:
"Bergembiralah dengan datangnya suatu hari baik yang pernah engkau alami
sejak engkau dilahirkan oleh ibumu. "Saya bertanya: "Apakah itu
datangnya dari sisi Tuan sendiri ya Rasulullah, ataukah dari sisi
Allah?" Beliau صلی الله عليه وسلم menjawab: "Tidak dari aku sendiri, tetapi memang dari Allah 'Azzawajalla". Rasulullah صلی الله عليه وسلم itu
apabila gembira hatinya, maka wajahnya pun bersinar indah,seolah-olah
wajahnya itu adalah sepenuh bulan, kita semua mengetahui hal itu.
Setelah
saya duduk di hadapannya, saya lalu berkata: "Ya Rasulullah,
sesungguhnya untuk menyatakan taubatku itu ialah saya hendak melepaskan
sebagian hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan RasulNya." Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
"Tahanlah untukmu sendiri sebagian dari harta-hartamu itu, sebab yang
sedemikian itu adalah lebih baik." Saya menjawab: "Sebenarnya saya telah
menahan bagianku yang ada di tanah Khaibar." Selanjutnya saya
meneruskan: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan
diriku dengan jalan berkata benar, maka sebagai tanda taubatku pula
ialah bahwa saya tidak akan berkata kecuali yang sebenarnya saja selama
kehidupanku yang masih tertinggal." Demi Allah, belum pernah saya
melihat seseorangpun dari kalangan kaum Muslimin yang diberi cobaan oleh
Allah Ta'ala dengan sebab kebenaran kata-kata yang diucapkan, sejak
saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلمyang
jadinya lebih baik dari yang telah dicobakan oleh Allah Ta'ala pada
diriku sendiri. Demi Allah, saya tidak bermaksud akan berdusta
sedikitpun sejak saya mengatakan itu kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلمsampai
pada hariku ini dan sesungguhnya sayapun mengharapkan agar Allah Ta'ala
senantiasa melindungi diriku dari kedustaan itu dalam kehidupan yang
masih tertinggal untukku."
Ka'ab berkata; "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan wahyu yang artinya:
"Sesungguhnya
Allah telah menerima taubatnya Nabi, kaum Muhajirin dan Anshar yang
mengikutinya - ikut berperang ュ dalam masa kesulitan - sampai di
firmanNya yang berarti ; Sesungguhnya Allah itu adalah Maha Penyantun lagi Penyayang kepada mereka.
Juga
Allah telah menerima taubat tiga orang yang ditinggalkan di belakang,
sehingga terasa sempitlah bagi mereka bumi yang terbentang luas ini -
sampai di firmanNya yang berarti - Bertaqwalah kepada Allah dan
hendaklah engkau semua bersama orang-orang yang benar." (at- Taubah:
117-119)
Ka'ab berkata: "Demi Allah, belum pernah Allah
mengaruniakan kenikmatan padaku sama sekali setelah saya memperoleh
petunjuk dari Allah untuk memeluk Agama Islam ini, yang kenikmatan itu
lebih besar dalam perasaan jiwaku, melebihi perkataan benarku yang saya
sampaikan kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم,
sebab saya tidak mendustainya, sehingga andaikata demikian tentulah
saya akan rusak sebagaimana kerusakan yang dialami oleh orang-orang yang
berdusta - maksudnya ialah kerusakan agama bagi dirinya, akhlak dan
lain-lain. Sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman kepada orang-orang
yang berdusta ketika diturunkannya wahyu, yaitu suatu kata-kata terburuk
yang pernah diucapkan kepada seseorang. Allah Ta'ala berfirman yang
artinya:
"Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah,
ketika engkau kembali kepada mereka, supaya engkau dapat membiarkan
mereka. Sebab itu berpalinglah dari mereka itu, sesungguhnya mereka itu
kotor dan tempatnya adalah neraka Jahanam, sebagai pembalasan dari apa
yang mereka lakukan.
Mereka bersumpah kepadamu supaya engkau merasa
senang kepada mereka, tetapi biarpun engkau merasa senang kepada mereka,
namun Allah tidak senang kepada kaum yang fasik itu." (at- Taubah:
95-96)
Ka'ab berkata: "Kita semua bertiga ditinggalkan, sehingga
tidak termasuk dalam urusan golongan orang-orang yang diterima oleh
Rasulullah صلی الله عليه وسلم perihal
alasan-alasan mereka itu, yaitu ketika mereka juga bersumpah padanya,
lalu memberikan janji-janji kepada mereka supaya setia dan memohonkan
pengampunan untuk mereka pula. Rasulullah صلی الله عليه وسلم telah
mengakhirkan urusan kita bertiga itu sehingga Allah memberikan
keputusan dalam peristiwa tersebut." Allah Ta'ala berfirman: "Dan juga
kepada tiga orang yang ditinggalkan."
Bukannya yang disebutkan di
situ yaitu dengan firmanNya "Tiga orang yang ditinggalkan dimaksudkan
kita membelakang dari peperangan, tetapi Rasulullah صلی الله عليه وسلم yang
meninggalkan kita bertiga tadi dan menunda urusan kita, dengan tujuan
untuk memisahkan dari orang-orang yang bersumpah dan mengemukakan
alasan-alasan padanya, kemudian menyarmpikan masing-masing keuzurannya
dan selanjutnya beliau صلی الله عليه وسلم, menerima alasan- alasan mereka tersebut." (Muttafaq 'alaih)
Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Bahwasanya Rasulullah صلی الله عليه وسلم keluar untuk berangkat ke peperangan Tabuk pada hari Khamis dan memang beliau صلی الله عليه وسلم suka sekali kalau keluar pada hari Kamis itu."
Dalam riwayat lain disebutkan pula: "Beliau صلی الله عليه وسلم tidak datang dari sesuatu perjalanan melainkan di waktu siang di dalam saat dhuhadan jikalau beliau صلی الله عليه وسلم telah datang, maka lebih dulu masuk ke dalam masjid, kemudian bersembahyang dua rakaat lalu duduk di dalamnya."
Dari
Abu Nujaid (dengan dhammahnya nun dan fathahnya jim) yaitu lmranbin
Hushain al-Khuza'i radhiallahu 'anhuma bahwasanya ada seorang wanita
dari suku Juhainah mendatangi Rasulullah
dan
ia sedang dalam keadaan hamil kerana perbuatan zina. Kemudian ia
berkata: "Ya Rasulullah, saya telah melakukan sesuatu perbuatan yang
harus dikenakan had - hukuman - maka tegakkanlah had itu atas diriku."
Nabiullah
lalu memanggil
wali wanita itu lalu bersabda: "Berbuat baiklah kepada wanita ini dan
apabila telah melahirkan - kandungannya, maka datanglah padaku dengan
membawanya." Wali tersebut melakukan apa yang diperintahkan. Setelah
bayinya lahir - lalu beliau
memerintahkan untuk memberi hukuman, wanita itu diikatlah pada pakaiannya, kemudian dirajamlah. Selanjutnya beliau
menyembahyangi jenazahnya.